The Reason I Pray

Dulu,
waktu aku masih kecil,
aku pernah punya teman dekat. Sangat dekat.
Teman di rumah. Teman di sekolah. Ke mana-mana selalu bersama.

Begitu banyak hal-hal yang kami lalui bersama.

Bermain di genangan sisa hujan,
menonton kartun dari VCD,
bermain Play Station menjelang UAS (aku dimarahi mamaku setelah itu),
bertingkah bak artis terkenal,
berandai-andai menjadi apapun : dokter, guru, koki, bahkan kasir.

Sampai suatu hari aku kabar itu sampai kepadaku.

Ia akan pindah rumah.
Tidak jauh memang.
Tapi kalau nanti dia pergi,
dengan siapa aku akan bermain?

Aku sedih. Lalu aku ingat sesuatu : DOA.

Kemudian selama berbulan-bulan aku berdoa,
Supaya ia tak jadi pindah.
Supaya aku tetap punya teman bermain di genangan sisa hujan.

Pikirku dengan berdoa yang rajin aku akan bisa mengubah keputusan orang tuanya untuk pindah.

Tapi, yaa,
akhirnya dia pindah juga.

Sedih memang.

Rumahnya sebenarnya tidak begitu jauh.
10 menit naik angkot pun sampai.
Aku masih sering datang ke rumahnya sampai aku lulus SD.

Semenjak kepindahannya aku selalu berpikir bahwa doa adalah sebuah tindakan preventif.
Jangan hanya doakan masalah yang sedang dirimu hadapi,
tapi berdoa juga untuk segala sesuatu yang kamu cintai
agar mereka luput dari berbagai hal yang tidak dirimu inginkan.

Entah.
Aku tak tau apakah definisi doa yang sesungguhnya.
Pada kondisi apa kita harus berdoa.
Aku tau ada yang salah dari motivasiku untuk berdoa.

Tapi apa?

Komentar

Postingan Populer