Here I Come

seperti yang sudah saya katakan di post sebelumnya : saya banyak berubah.
ternyata hidup itu lucu.

dulu, saat awal SMA, setiap pulang sekolah saya nangis karena kangen sama SMP.
saya begitu ketakutan dengan perubahan yang begitu drastis.

di SMP, saya terbiasa bergaul dengan orang yang itu-itu lagi. teman yang sama dengan sejak SD. bahkan TK. everybody knows everybody.
di SMA, semuanya asing. saya tidak kenal semuanya. orang baru. lingkungan baru. guru dan perangainya yang beda jauh dengan guru SMP saya. dan jangan lupa, senior yang mengaum-aum minta dihormati oleh adik kelas (baca : senioritas).

saya kaget, waktu itu.
beruntung saya punya teman sebangku yang sama-sama berasal dari SMP swasta. tapi shock culture dia nggak separah saya. kami berteman dan lalalalala, akhirnya saya masih hidup sekarang. saya nggak tau apa yang bisa saya lakukan kalau waktu itu kami nggak dipertemukan. saya pasti jadi orang yang paling menyedihkan.

waktu mau masuk perkuliahan, ada satu hal yang saya khawatirkan :
apakah saya akan mampu beradaptasi lagi, tanpa bantuan orang-orang seperti teman-teman pertama di masa SMA?

tapi ternyata, saya mampu.

here I am now!

saat ini saya sedang berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup banyak diidamkan orang. gudangnya menantu idaman, katanya sih gitu.
dulu saya sempat meragukan apakah saya akan bisa bertahan di sini.
bukan apa-apa,
saya yakin 100%, saya masuk ke kampus ini bukan karena usaha yang saya lakukan dulu, tapi karena kebaikan Tuhan yang luar biasa.
kalau bukan karena Tuhan, tidak mungkin saya --yang hanya mengisi 2 soal fisika, 4 soal kimia, 5 soal biologi, dan 6 soal matematika-- bisa tembus ke tempat ini.
boro-boro ke kampus idaman ini.
ke PTN tetangga untuk jurusan yang nggak terlalu favorit aja, hasil tryout saya nggak pernah cukup.

tapi ternyata saya berhasil melewati semester 1 dengan IP di luar ekspektasi saya. yaa, bukan yang bagus banget sih memang. tapi untuk saya, mendapatkan IP segitu sudah bikin saya sujud syukur jumpalitan. setidaknya IP saya nggak bikin malu sekolah asal saya lah.

oh iya.

sekarang saya juga jadi announcer di Radio Kampus loh. saya nggak nyangka. teman-teman SMA saya pasti lebih nggak nyangka lagi. saya gitu loh.
seorang Gertrud Aknadya? jadi announcer?
wuh, nggak pernaaaah sekalipun terlintas di benak saya.

tapi saya biarkan hidup mengalir, mengalir, dan akhirnya menuntun saya ke sini.
ke dunia announcing yang ternyata asik banget.

saya bukan pro kok. saya masih belajar juga. ini bukan kata-kata bohong buat merendahkan diri loh ya. saya sadar bahwa kemampuan saya masih ecek-ecek lah. tapi kalau saya mencintai hal ini, bukan nggak mungkin kan saya bisa menggali lebih dalam dan menjadi lebih baik?

ngomong-ngomong soal kemampuan, saya mau cerita sesuatu.

jadi beberapa minggu lalu, saya menghadap dosen wali saya untuk melihat hasil psikotes.

"kamu suka seni ya?" tanya dosen saya.

saya nahan ketawa.

"boro-boro, Bu."

"nyanyi?"
"nggak, bu."

"nari ya?"
"sama sekali nggak bisa, bu."

"oh, main musik bisa?"
"yaa, paling gitar. itu juga cuma bisa main kunci, bu. genjreng-genjrengnya aja masih berantakan banget."

terus hening agak lama.

ibunya mikir. hampir kehilangan akal, mungkin.

"kalo nulis?"

hmm.

"dulu saya suka nulis sih, bu. tapi udah dulu banget. jaman SMP. sekarang udah nggak pernah lagi."

"kenapa atuh? coba lah mulai nulis lagi. soalnya menurut psikotes kamu punya ketertarikan di bidang seni"

whoa.

dan

saya langsung bertekad buat ngaktifin blog saya lagi.

dan,

here it is.

akhirnya saya mulai menulis lagi.

wah,
ini adalah postingan "here I come again" yang cukup panjang.

semoga semakin lama saya semakin nyaman menulis dan bisa berbagi cerita dengan teman-teman yang sedang membaca postingan ini.

cheers!

xoxo

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer