So, here is the drama

Buat teman - teman saya sekalian, yang merasa sekelompok dengan saya, ini drama kita..
Maap kalo ada yang aku kurangin ato tambahin..
Drama ini dibuat untuk bahan Ujian Praktek di aspek menulis dan berbicara pelajaran bahasa Indonesia..

Drama yang berjudul asli (halah sok2an pisan) Anthem for Underdog ini diubah menjadi bahasa Indonesia karena drama ini ditujukan untuk pelajaran bahasa Indonesia menjadi : Nyanyian untuk Orang Tertindas.

Meskipun keliatannya pendek, sejujur2nya, kalo di-copy ke Microsoft Word dengan ukuran 12 dan jenis tulisan Calibri, ini bisa ngabisin 5 halaman..

So,
here is the drama..

Hope you'll enjoy it..
***

Nyanyian untuk Orang Tertindas


Finn adalah seorang anak laki – laki yang putus sekolah sejak SMA kelas 1 karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkannya. Ia tinggal bersama ibunya yang kejam di sebuah rumah kumuh yang terletak di pinggir perkotaan. Mereka hidup serba kekurangan semenjak ditinggal wafat ayahnya.
Sebelumnya ia bekerja sebagai seorang loper koran. Tapi, karena tidak memiliki kendaraan apapun, ia dipecat karena koran yang ia antarkan selalu terlambat.
Ia selalu mendapat cacian dan siksaan fisik dari ibunya.
Suasana di dalam rumah Finn.
Ibu Mary         : “Finn!! Finn!!” (dengan wajah marah)
Finn                 : (beberapa saat kemudian berlari menghampiri) “Ada apa, Bu?” (tertunduk)
Ibu Mary         : “Kamu ini, (sambil mendorong), dari tadi ibu sudah memanggilmu tapi kamu baru datang!”
Finn                 : (berusaha berdiri) “Finn tadi ketiduran, Bu.”
Ibu Mary         : (mengambil tongkat pemukul) “Kamu ini kerjaannya tidur terus! Kamu itu anak laki-laki! Harusnya kamu bisa cari kerja! (memukul dengan penuh amarah)
Finn                 : (terjatuh lalu merintih) “Ampun, Bu! Ampun!”
Ibu Mary         : (terus memukuli Finn)

Karena kesakitan Finn pun berusaha melarikan diri dari ibunya dan berlari keluar dari rumah.

Ibu Mary         : “Awas kamu, ya!” (menunjuk Finn, yang berusaha berlari, dengan tongkat)

Suasana di jalan raya.

Finn pun berjalan mengelilingi kota. Ketika berjalan, Finn menemukan sebuah kaleng dan menendangnya.

Finn                 : (menendang – nendang kaleng) “Ibu ini kerjaannya marah terus! Udah janda, nggak berguna, kerjaannya nyuruh – nyuruh, pesek lagi! Huh.. Sialan!”

Ketika sedang menendang kaleng, kaleng yang ditendang Finn pun membentur tembok. Ketika Finn akan menendang kaleng itu lagi, ia melihat sebuah brosur yang tertempel di tembok itu.

Finn                 : “Wow, 100.000 $! (mengambl brosur dan membacanya) ‘G Corporation, kami menantang anda untuk melawan Master G bertanding rubik dan memenangkannya. Bagi yang dapat mengalahkan Master G, ia akan mendapatkan uang sebesar 100.000 $!’” (langsung mengantonginya dan berlari pulang)

Sesampainya Finn di rumah...

Finn                 : “Ibu.. Lihat! Finn menemukan brosur lomba. Kalau aku bisa memenangkannya, kita bisa kaya, Bu!” (menunjukkan brosurnya)
Ibu Mary         : “Apa – apaan sih kamu ini! Bukannya pulang bawa uang, tapi malah bawa kayak beginian!”
Finn                 : “Pasti aku bisa menang! Kita akan jadi orang kaya!”
Ibu Mary         : “Baik, ibu izinkan. Tapi, ingat, kalau kamu kalah, lihat saja hukumannya!”

Finn pun pergi ke G Corporation untuk mendaftarkan diri.
Sesampainya di sana, dia menemui resepsionis, lalu ia diizinkan untuk memasuki ruangan milik Master G.

Suasana di dalam ruangan Master G, sunyi.
Finn                 : “Permisi.”
Master G         : (terdiam sejenak) “Siapa kamu?”
Finn                 : (tergagap karena gugup) “S...saya Finn, s... saya i... ingin me... mengikuti l... lomba r... r... rubik ini..”
Master G         : “Apa? (sambil menggebrak meja) Orang miskin seperti anda? Ingin mengikuti lomba seperti ini? Memang Anda sanggup membayar uang pendaftarannya?”
Finn                 : (menunduk)
Master G         : “Bayar dulu saja uangnya! Baru kamu boleh kemari lagi!”

Finn keluar dari ruangan itu dan mencari temannya yang seorang rentenir.
Suasana di perkampungan. Finn menghampiri rentenir itu.

Rentenir          : (menghisap sebatang rokok) “Bro, ngapain loe ke sini?”
Finn                 : “What’s up, Dude! Gue pinjem uang, dong!”
Rentenir          : “Apa? (sambl melempar rokok yang tadi ia hisap) Loe kira gue bapak loe, apa? Emang loe bisa ngembaliin duit gue?”
Finn                 : “Gue janji deh bakal ngembaliin sampe 4 kali lipat!”
Rentenir          : “Oke. Oke. Gue pegang janji loe. Bentar, gue ambil dulu uangnya.”

Rentenir itu mengambil uang di dalam rumahnya.
Rentenir          : (sambil melempar uang) “Nih, uang loe!”
Finn                 : “Sip! Makasih, ya, Bro! Loe baik banget sama gue!”
Rentenir          : (mengacungkan jempol sambil tersenyum licik)

Finn pun kembali ke G Corporation dan membayar biaya pendaftaran. Suasana di ruangan Master G.
Finn                 : (meletakkan uang yang diminta di meja Master G)

Seminggu setelahnya, ia mengikuti lomba rubik tersebut dan berhasil mengalahkan 114 peserta lainnya. Akhirnya ia mengikuti Grand Final melawan Master G.
Suasana di atas panggung.

MC                  : “Dan, inilah pertandingan spektakuler antar Master G dengan Finn! Kita sambut, Finn! Orang yang telah mengalahkan 114 orang.”

Finn memasuki arena pertandingan sambil melambaikan tangannya.

MC                  : “Dan inilah Master G!”

Tak lama kemudian, pertandingan pun dimulai.
MC                  : “Pertandingan sangat sengit malam ini! Dua pesaing sama – sama kuat! Siapakah yang akan memenangkannya?”

Tiba – tiba suasana hening ...
Master G         : (sambil meletakkan rubik yang telah selesai) “Kamu! Kamu kalah!” (menunjuk Finn)
Finn                 : (mengekspresikan kekecewaannya) “Ah, sial! (meletakkan rubiknya di meja) Sudah mengalahkan 114 orang tapi kalah di final! Aah!”

Finn pun pulang dengan membawa kekalahannya.
Sesampainya di rumah.

Ibu Mary         : (menyambut dengan hangat) “Finn anakku, kau pasti menang.”
Finn                 : “Tidak, Bu.. Aku.. Aku kalah..” (menunduk)
Ibu Mary         : (dengan mata terbelalak) “Kau memang anak tak berguna!”
Finn                 : “Ibu! Ibu lebih tidak berguna! Sudah janda, pesek, kerjaannya hanya bisa nyuruh – nyuruh anaknnya!”
Ibu Mary         : “Dasar kamu anak kurang ajar!” (memukuli dengan penuh amarah)

Finn pun dipukuli habis-habisan oleh ibunya. Dia tidak bisa lagi melakukan apa – apa. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Keesokan paginya.. Suasana di depan rumah Finn..
Rentenir          : “Kenapa muka loe?” (melihat – lihat muka Finn)
Finn                 : “Nggak.. Nggak apa – apa..” (memegangi memar dan lukanya)
Rentenir          : “Oh.. (ekspresi datar) Mana janji loe?
Finn                 : “Gue belum ada uangnya..” (menunduk)
Rentenir          : “Jangan bohong, loe! (mendorong Finn) Loe harus bayar sekarang juga!”
Finn                 : (terjatuh) “Gue bener – bener nggak punya uang sama sekali. Ngapain juga gue bohong sama loe..” (memelas)
Rentenir          : “Oke, kalo nggak bisa bayar sekarang, mending loe ikut gue ke kantor polisi..”

Rentenir pun membawa Finn ke kantor polisi. Finn tidak bisa membela dirinya. Karena ia bersalah, ia pun diinterogasi. Suasana di ruang pemeriksaan.

Polisi                : “Siapa nama lengkap saudara?”
Finn                 : “Finn McMisille”
Polisi                : (menulis namanya) “Apa tuduhan yang dituduhkan kepada saudara?”
Finn                 : “Saya, saya telah...”
Master G         : “Utang bocah ini telah lunas..” (ekspresi datar)
Rentenir          : “Ya, bahkan sudah dibayar 4 kali lipat dari yang ia pinjam!” (tertawa senang lalu meninggalkan mereka)
Finn                 : “Master G?? (kaget) kenapa anda bisa di sini?”
Master G         : “Kamu tidak perlu tau. Sekarang kamu, ikut saya!”

Setelah menyelesaikan semua urusannya dengan polisi, Finn pun diajak Master G untuk pergi ke suatu tempat. Ibu Marry juga diajak. Mereka pergi ke sebuah restoran mahal.

Finn                 : “Wah! Bagus sekali restoran ini!” (memandangi seisi restoran dengan terpesona)
Ibu Marry        : “Ya, jelas! Ini pasti restoran mahal!” (memandangi sekeliling dengan terpesona)
Master G         : “Silahkan duduk.”

Mereka bertiga pun duduk. Mereka memesan makanan. Saat makanan mereka tiba, Finn dan Ibunya memakan pesanan mereka masing – masing dengan penuh kekaguman.

Finn                 : “Enak sekali makanannya! Kita belum pernah makan seenak makanan seperti ini, ya, Bu?”
Ibu Mary         : “Iya..”
Finn                 : “Terima kasih, Master.”
Master G         : (tersenyum)

Setelah selesai memesan, Master G membicarakan sesuatu.
Master G         : “Sebelum pulang, saya ingin mengatakan sesuatu..”
Finn                 : “Apa itu, Master?”
Master G         : “Kamu akan menjadi pengurus perusahaan saya.”
Finn + Mary     : “Apa?!” (kaget)
Finn                 : “Tapi saya hanya sekolah sampai kelas 1 SMA.”
Master G         : “Tenang, saya akan membiayai biaya sekolahmu sampai universitas nanti. Lagi pula, akan ada orang kepercayaan saya yang akan mendampingi kamu.”
Finn                 : “Kenapa harus saya, Master?”
Master G         : “Saya yakin kamu bisa melakukannya, karena saya melihat sendiri bahwa kamu adalah seorang anak yang mau berjuang dengan gigih. Dan satu lagi, harta saya adalah harta kalian juga..”

Belum sembuh dari terkejutannya karena Finn akan menjadi penerus perusahaan, ditambah lagi mereka juga akan menjadi orang yang memiliki harta milik Master G, mereka menangis karena bahagia.

Ibu Mary         : “Terima kasih! Saya tidak tau harus membalas kebaikan Anda dengan apa.”
Master G         : “Jagalah anakmu ini dengan baik..” (sambil memandang ke arah Finn)



Akhirnya mereka pindah dari rumah di perkampungan yang kumuh dan tinggal di sebuah rumah mewah milik Master G. Dengan kehidupan baru ini, Ibu Mary berubah menjadi lebih rajin dan belajar untuk lebih menghargai anaknya.

Mereka berdua tak pernah lupa pada jasa Master G. Setiap 1 bulan sekali, mereka berziarah ke makam Master G. Master G meninggal karena penyakit kanker otak.

Setelah selesai melanjutkan pelajaran di universitas, Finn memimpin G Corporation dengan baik sehingga keuntungan perusahaan tersebut semakin meningkat. Akhirnya, Ibu Mary dan Finn hidup dalam kemudahan dan kebahagiaan. Tak ada lagi caci maki dan siksaan fisik dari Ibu Mary yang ‘menghiasi’ kehidupan Finn.

SELESAI

Anggota kelompok
Kelas   : 9a
Nama  :

Clara Yohanna            sebagai            Narator
Gertrud Aknadya         sebagai            Ibu Mary
Kevin Grahadian         sebagai            Master G
Natasja Calista            sebagai            Rentenir
Stanislaus Octaviano  sebagai            MC dan Polisi
Virenus Bram              sebagai            Finn

Komentar

Postingan Populer