Aku Pulang

Rasa rindu kembali memanggil air mataku. Kalau sudah begini, biasanya aku akan mencari - cari tisu untuk mengelap air mataku yang hangat dan, tentu saja, fotomu. Tapi, kali ini berbeda. Meskipun air mata mengalir di pipiku, aku tak berusaha mencari fotomu. Tidak, foto itu tidak hilang. Hanya saja saat ini aku merasakan sebuah kekuatan tersendiri. Aku hanya melihat keluar sambil mengharapkan pesawat  ini dapat bergerak lebih cepat, sehingga bisa segera mengantarkanku ke tanah kelahiranku.


Musim datang dan pergi. Telah satu tahun lamanya aku tak merasakan sayur lodeh buatanmu, makanan kesukaanku. Jujur, tak ada yang bisa menyaingi sayur lodeh itu. Ingatkah ketika kita menikmati lodeh buatanmu itu di teras rumah kita? Biasanya kita menikmati lodeh hangat itu sambil ngobrol - ngobrol santai. Aku sangat merindukannya. Aku tidak hanya merindukan rasa dari sayur lodehmu itu. sejujurnya, aku lebih merindukan percakapan kita. Percakapan kita yang selalu penuh dengan makna. Bahkan, percakapan yang kurang penting pun, dirimu masih saja bisa menaburkan bumbu - bumbu yang membuat percakapan itu menjadi sangat menyenangkan.


Maaf, ya. Sekarang aku jarang sekali mengirimi surat. Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan padamu, bukan hanya ingin memberitahu kabarku. tapi aku begitu sibuk. Jangankan untuk menulis surat untukmu, bahkan aku sering lupa mengurus diriku. Lupa makan, tidur larut, dan bangun subuh. Maaf karena aku tidak bisa menaati nasihatmu pada saat aku hendak meninggalkanmu, "Jaga diri baik - baik.." Tapi aku yakin, meskipun jarang mengirimi surat kau pasti masih sangat menyayangiku. Buktinya, hampir setiap minggu aku mendapat sepucuk surat darimu. Kau masih menanyakan kabarku, masih ingin tahu keadaanku. Selama 2 bulan ini, aku memang sedang sibuk. Sekali lagi, aku minta maaf atas kesibukanmu yang akhirnya mengesampingkanmu selama ini.


Ya, aku tahu aku sangat beruntung. Di sini, aku dikelilingi oleh begitu banyak orang yang begitu perhatian padaku. Namun semua itu tak dapat menepis rasa rinduku padamu. Bahkan, terkadang aku masih merasa kesepian. Memang, mereka adalah orang - orang yang baik. hanya saja, di sini tak ada yang bersikap semanis dan selembut dirimu.


Tapi, sekarang tak perlu lagi kau menunggu surat dariku. Jikalau ini agak mengejutaknmu, aku minta maaf. Aku memang sengaja tak memberitahumu bahwa aku akan pulang. Melepas rinduku yang teramat sangat padamu. Setelah pulang nanti, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Rumah? Emas? Mobil? adakah yang bisa menebus semua kebaikanmu selama ini? aku sudah berjanji akan membahagiakanmu. Tapi, aku yakin semua itu tidak akan bisa membalas segala kebaikanmu. Mungkin yang kau inginkan saat ini hanya aku.


Bu, aku pulang.
Tunggu aku di rumah..


(originally by Nadya)

Komentar

Postingan Populer